Huruf Nun


Huruf Nun dapat dilihat sebagai perlambang dari sejumlah misteri yang layak direnungkan. Huruf itu dalam tradisi Islam merepresentasikan Al-Hut (Ikan Paus) yang konon menelan tetapi juga menolong Nabiyullah Yunus AS (the prophet Jonah). Karena alasan iniliah beliau bergelar Dhu-n-Nun atau Shahib Al-Hut.

Huruf Nun dalam sistem Abjad Arab menempati urutan ke-14 atau posisi tengah dalam rangkaian huruf yang berjumlah 28 itu. Label “tengah” dalam konteks ini tampaknya memilki konotasi tertentu:

- Masing-masing huruf dalam Abjad Arab (seperti halnya abjad Yahudi) memilki nilai tertentu dan Huruf Nun nilainya 50. Angka ini mengesankan “setengah” dari angka sempurna yang biasanya diberikan nilai 100. Kesan serupa juga terlihat dari bentuk huruf itu yang menyerupai “setengah” lingkaran dengan satu titik di tengahnya.

- Bentuk setengah lingkaran juga menggambarkan perahu yang dapat dianalogikan dengan perahu Nabi Nuh AS yang digunakan untuk menyelematkan benih-benih kehidupan dalam masa transisi atau masa kegelapan (a period of obscuration) yang menandai dua kehidupan yang sangat berbeda: sebelum dan pasca banjir bah. Benih-benih kehidupan itu dilambangkan oleh titik dalam huruf Nun.

Jika dalam kisah Nabi Nuh AS masa transisi itu dapat dianalogikan dengan masa berkecamuknya banjir bah, maka dalam kisah Nabi Yunus AS dengan masa ketika beliau berada dalam kegelapan perut Ikan. Untuk menyempurnakan siklus, Era Baru, Kelahiran Baru atau regenarsi wujud merupakan keniscayaan baik pada tingkat individual maupun kosmis. Era baru itu diawali dengan berakhirnya banjir bah Nabi Nuh AS atau dengan dikeluarkannya Nabi Yunus AS dari perut Ikan Paus. Pada tingkat individu penyempurnaan siklus tampaknya hanya dapat dicapai setelah kematian (al-maut) yang dilambangkan oleh huruf Mim, urutan huruf berikut setelah Nun. Pada tingkat yang lebih umum, penyempurnaan siklus itu dapat dilakukan dengan melengkapi setengah lingkaran Huruf Nun (lambang dunia “bawah” yang merupakan domain pemisahan dan terus berubah) dengan huruf Nun lain tetapi berbentuk terbalik (lambang dunia “atas” yang permanen dan tak berubah dalam kekinian yang abadi). Penambahan itu membentuk lingkaran penuh dengan satu titik pusat, lambang kesempurnaan.

Huruf Nun dengan bentuk terbalik anehnya ditemukan dalam huruf Na dalam abjad Sanskerta. Huruf Na (Sanskerta) melambangkan “matahari terbit” dari Tradisi Primordial Hindu sementara Huruf Nun (Arab) melambangkan “matahari terbenam” dari “Segel Kenabian” (Seal of Prophecy) dalam Tradisi Islam. Kombinasi dari keduanya: Represents the ultimate form of traditional orthodoxy for present cycle”.

Wallahu a’alam …..

Diringkas dari René Guénon, “The Mysteries of the Letter Nun”.

0 Comments

Post a Comment